Didasari keingintahuan kami akan kehidupan masyarakat Dusun Pesisir timur, Desa Legung, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep (yang biasa disebut manusia pasir). Maka kami, Himpunan Mahasiswa Jurnalistik dan Fotografi (HMJF) ingin mencari tahu dan mencatat dalam suatu catatan pena serta membingkainya dalam bingkai visual foto. Tujuan kami melakukan kegiatan ini untuk mempublikasikan kepada masyarakat umum tentang kehidupan manusia pasir yang memiliki kebudayaan dan keunikan tersendiri.
Awal perjalanan kami Kepulau Garam Madura diiringi oleh mendung yang terlihat bergelayut manja. Siang itu (13/05) di depan Gedung Pasca Sarjan Universitas Kanjuruhan Malang kami sibuk mempersiapkan semua perlengkapan. Teriakan panjang direktur sesekali mulai terdengar. “Woi,,, ayok rek wes siang iki.” Suara serak direktur mulai menyigapkan gerak kami. Jarum jam menunjukkan angka 11.20, akhirnya kami melanjukan sepeda motor kearah utara Kota Malang untuk membungkus suasana dibalik Pesisir Timur “Manusia Pasir” dalam rangkaian coretan pena dan bingkai lensa.
Perjalanan tertempuh dengan suasana yang sering dihiasi oleh senyum kami dan rintik hujan yang selalu mendampingi. Sore mulai menyapa, kami melakukan penyebrangan di Jembatan Suramadu dan akhirnya jam 16.30 kami pun menginjakkan kaki di Pulau Madura. Perjalanan ditempuh dengan kecepatan normal sampai setibanya di Daerah Pamekasan, kami semua dikejutkan oleh kecelakaan sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh Atik Widayanti dan Sumbang Wocaksono (Alhamdulillah,,,untungnya nih ga terjadi apa-apa ma mereka). Sontak kami menghentikan laju sepeda dan istirahat sejenak untuk menenangkan pikiran. Seperempat jam kemudian, kami kembali melajukan sepeda kearah timur Kota Pamekasan. Memasuki Kota Sumenep, kami kembali berhenti umtuk beristirahat sejenak dari kepenatan perjalanan. Hujan rintik-rintik menemani kami kala itu tapi kami tetap bersemangat untuk memenuhi hasrat narsis kami dan mengisi kekosongan perut. Setelah puas melepas penat, kami langsung menuju penginapan yang merupakan rumah salah satu anggota HMJF, Yudi anshori. Setelah sholat kami bergegas kealam mimpi tapi tersiar kabar bahwa ada beberapa senior yang menyusul kami, antara percaya dan tidak kami menerima telfon salah satu dari mereka. Yuni Ratnawati, S.Pd menanyakan alamat rumah Yudi, tapi beberapa peserta berinisiatif untuk menjemmput mereka didekat Kantor Polisi Sumenep.
Adzan subuh memberikan tanda bagi kami bahwa hari telah pagi. Setelah sarapan, kami langsung bergegas ke Dusun Pesisir Timur desa Legung untuk mencatat kehidupan mereka dalam suatu catatan pena dan dalam bingkai visual foto. Sesampainya disana kami langsung menuju kantor kelurahan, sebagian anggota laki-laki bergegas kearah mesjid yang berada disamping kelurahan, untuk menunaikan sholat jumat. Tak disangka kedatangan kami bertepatan dengan empat puluh harinya salah satu warga yang meninggal, sehingga kami mengikuti proses itu sampai selesai. Prosesi yang dilaksanakan di daerah ini tidk jauh berbeda dengan budaya masyarakat Jawa pada umumnya, hanya saja didaerah tersebut nasi yang biasa disajikan didaerah lain digantikan dengan ketan.
Setelah sambutan dan arahan dari kepala desa, kami langsung menuju kepenginapan, rumah Hanafi (31). Istirahat sebentar, kami mempelajari kebudayaan dari masyarakatnya yang memilih pasir sebagai kasur disetiap rumah. Dari kebudayaan inilah masyarakat didaerah tersebut dipanggil dengan sebutan “Manusia Pasir”. Kebudayaan yang menarik bagi kami adalah ark-arakan pengantin yang mengelilingi dusun. Selain itu perempuan di Dusun Pesisir Timur ini juga memakai sarung untuk beraktifitas sehari-hari (Kebudayaan ini merupakan kebudayaan yang berakar dihampir seluruh masyarakat Madura).
Pendidikan di Dusun ini hanya TK dan SD. Sedangkan untuk mata pencaharian mayoritas penduduk di dusun tersebut, petani dan nelayan, selebihnya menggeluti industri pembuatan petis, wiraswasta warung, dan pembudidayaan cemara udang yang merupakan ikon tersendiri di Pantai Lombang yang berjarak sekitar 500 M dari Dusun Pesisir Timur. Pemuda di daerah ini mayoritas menyukai olahraga voli dan sepakbola. Sehingga olahraga memiliki komunitas tersendiri disana. Tidak hanya kebudayaan dan kehidupan mereka yang menarik untuk dicatat, alam disanapun menyajikan pemandangan yang sangat indah untuk didokumentasikan. Puas melihat kehidupan dan alam mereka, kami bergegas kembali kepenginapan setelah isya. Kami sharing dengan pemilik rumah tentang apa yang kami dapatkan sebelumnya. Lelah sangat terasa malam itu, kami pun segera bergegas ke alam mimpi untuk mengisi tenaga untuk hari esok yang lebih cerah.
Pengarahan dan evaluasi dari senior menjadi bekal bagi kami untuk melanjutkan hunting di hari berikutnya. Sekitar jam 14.00 kami kembali kepenginapan untuk pamitan kepada tuan rumah. Perjalanan selanjutnya menuju rumah Yudi kembali, dalam perjalanan pulang empat orang diantara kami kesasar. Guyuran hujan menemani perjalanan kamikembali kala itu. Dan akhirnya sebelum adzan maghrib berkumandang kami sampai dirumah Yudi. Hal pertama yang kami lakukan disana adalah mencuci sepeda, setelah sholat isya kami melajukan sepeda menuju Alun-alun Kota sumenep. Malang,,ditengah jalan ada razia, padahal banyak dari kami yang meninggalkan surat-surat perlengkapan di penginapan. Akhirnya salah satu dari kami kembali ke Rumah Yudi untuk mengambil surat-surat, acara ngopi seperti biasa masih diselingi pose-pose narsis dari kami. Tujuan selanjutnya adalah kasur empuk yang dari sebelumnya terus membayangi kami.
Perjalanan kami dihari berikutnya ke Pelabuhan Kalianget, untuk mengabadikan momen munculnya matahari, sebelum akhirnya cabut ke Malang dan menjalani kembali kehidupan yang telah digariskan Tuhan. (Mae_beih)
»» READMORE...
Awal perjalanan kami Kepulau Garam Madura diiringi oleh mendung yang terlihat bergelayut manja. Siang itu (13/05) di depan Gedung Pasca Sarjan Universitas Kanjuruhan Malang kami sibuk mempersiapkan semua perlengkapan. Teriakan panjang direktur sesekali mulai terdengar. “Woi,,, ayok rek wes siang iki.” Suara serak direktur mulai menyigapkan gerak kami. Jarum jam menunjukkan angka 11.20, akhirnya kami melanjukan sepeda motor kearah utara Kota Malang untuk membungkus suasana dibalik Pesisir Timur “Manusia Pasir” dalam rangkaian coretan pena dan bingkai lensa.
Perjalanan tertempuh dengan suasana yang sering dihiasi oleh senyum kami dan rintik hujan yang selalu mendampingi. Sore mulai menyapa, kami melakukan penyebrangan di Jembatan Suramadu dan akhirnya jam 16.30 kami pun menginjakkan kaki di Pulau Madura. Perjalanan ditempuh dengan kecepatan normal sampai setibanya di Daerah Pamekasan, kami semua dikejutkan oleh kecelakaan sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh Atik Widayanti dan Sumbang Wocaksono (Alhamdulillah,,,untungnya nih ga terjadi apa-apa ma mereka). Sontak kami menghentikan laju sepeda dan istirahat sejenak untuk menenangkan pikiran. Seperempat jam kemudian, kami kembali melajukan sepeda kearah timur Kota Pamekasan. Memasuki Kota Sumenep, kami kembali berhenti umtuk beristirahat sejenak dari kepenatan perjalanan. Hujan rintik-rintik menemani kami kala itu tapi kami tetap bersemangat untuk memenuhi hasrat narsis kami dan mengisi kekosongan perut. Setelah puas melepas penat, kami langsung menuju penginapan yang merupakan rumah salah satu anggota HMJF, Yudi anshori. Setelah sholat kami bergegas kealam mimpi tapi tersiar kabar bahwa ada beberapa senior yang menyusul kami, antara percaya dan tidak kami menerima telfon salah satu dari mereka. Yuni Ratnawati, S.Pd menanyakan alamat rumah Yudi, tapi beberapa peserta berinisiatif untuk menjemmput mereka didekat Kantor Polisi Sumenep.
Adzan subuh memberikan tanda bagi kami bahwa hari telah pagi. Setelah sarapan, kami langsung bergegas ke Dusun Pesisir Timur desa Legung untuk mencatat kehidupan mereka dalam suatu catatan pena dan dalam bingkai visual foto. Sesampainya disana kami langsung menuju kantor kelurahan, sebagian anggota laki-laki bergegas kearah mesjid yang berada disamping kelurahan, untuk menunaikan sholat jumat. Tak disangka kedatangan kami bertepatan dengan empat puluh harinya salah satu warga yang meninggal, sehingga kami mengikuti proses itu sampai selesai. Prosesi yang dilaksanakan di daerah ini tidk jauh berbeda dengan budaya masyarakat Jawa pada umumnya, hanya saja didaerah tersebut nasi yang biasa disajikan didaerah lain digantikan dengan ketan.
Setelah sambutan dan arahan dari kepala desa, kami langsung menuju kepenginapan, rumah Hanafi (31). Istirahat sebentar, kami mempelajari kebudayaan dari masyarakatnya yang memilih pasir sebagai kasur disetiap rumah. Dari kebudayaan inilah masyarakat didaerah tersebut dipanggil dengan sebutan “Manusia Pasir”. Kebudayaan yang menarik bagi kami adalah ark-arakan pengantin yang mengelilingi dusun. Selain itu perempuan di Dusun Pesisir Timur ini juga memakai sarung untuk beraktifitas sehari-hari (Kebudayaan ini merupakan kebudayaan yang berakar dihampir seluruh masyarakat Madura).
Pendidikan di Dusun ini hanya TK dan SD. Sedangkan untuk mata pencaharian mayoritas penduduk di dusun tersebut, petani dan nelayan, selebihnya menggeluti industri pembuatan petis, wiraswasta warung, dan pembudidayaan cemara udang yang merupakan ikon tersendiri di Pantai Lombang yang berjarak sekitar 500 M dari Dusun Pesisir Timur. Pemuda di daerah ini mayoritas menyukai olahraga voli dan sepakbola. Sehingga olahraga memiliki komunitas tersendiri disana. Tidak hanya kebudayaan dan kehidupan mereka yang menarik untuk dicatat, alam disanapun menyajikan pemandangan yang sangat indah untuk didokumentasikan. Puas melihat kehidupan dan alam mereka, kami bergegas kembali kepenginapan setelah isya. Kami sharing dengan pemilik rumah tentang apa yang kami dapatkan sebelumnya. Lelah sangat terasa malam itu, kami pun segera bergegas ke alam mimpi untuk mengisi tenaga untuk hari esok yang lebih cerah.
Pengarahan dan evaluasi dari senior menjadi bekal bagi kami untuk melanjutkan hunting di hari berikutnya. Sekitar jam 14.00 kami kembali kepenginapan untuk pamitan kepada tuan rumah. Perjalanan selanjutnya menuju rumah Yudi kembali, dalam perjalanan pulang empat orang diantara kami kesasar. Guyuran hujan menemani perjalanan kamikembali kala itu. Dan akhirnya sebelum adzan maghrib berkumandang kami sampai dirumah Yudi. Hal pertama yang kami lakukan disana adalah mencuci sepeda, setelah sholat isya kami melajukan sepeda menuju Alun-alun Kota sumenep. Malang,,ditengah jalan ada razia, padahal banyak dari kami yang meninggalkan surat-surat perlengkapan di penginapan. Akhirnya salah satu dari kami kembali ke Rumah Yudi untuk mengambil surat-surat, acara ngopi seperti biasa masih diselingi pose-pose narsis dari kami. Tujuan selanjutnya adalah kasur empuk yang dari sebelumnya terus membayangi kami.
Perjalanan kami dihari berikutnya ke Pelabuhan Kalianget, untuk mengabadikan momen munculnya matahari, sebelum akhirnya cabut ke Malang dan menjalani kembali kehidupan yang telah digariskan Tuhan. (Mae_beih)